Search This Blog

Tuesday, March 5, 2019

Museum Naladipa Tempat Belajar Kearifan Lokal

Kepala Desa Dermaji, Bayu Setyo Nugroho menunjukkan koleksi benda di Museum Naladipa, beberapa waktu lalu.
PULUHAN benda perkakas pertanian dan alat-alat rumah tangga tertata rapi di ruangan 4 meter x 5 meter lantai II Kantor Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir, Banyumas. Benda-benda itu diletakkan di meja beralaskan taplak warna hitam.

Peralatan rumah tangga yang biasa digunakan oleh masyarakat desa tempo dulu, dapat dijumpai seperti gogok atau tempat minum dari tanah liat, alat untuk mendinginkan nasi usai dimasak (pane), centhong (alat pengaduk nasi) dan ilir (kipas), setrika arang dan masih banyak jenis benda lainnya.

Kemudian, untuk perkakas pertanian terdapat ani-ani, sabit, gerjaji, serta garu berukuran besar. Alat pertanian ini digunakan untuk meratakan tanah bajakan.

Di samping itu, terdapat juga benda lain seperti kacamata kuno, thing thong thing breng (alat musik tradisional dari bambu), kepis (alat penambung ikan terbuat dari anyaman bambu), traju (alat timbang tradisional dengan tampah), cangkriman (benda yang terbuat dari bambu yang biasanya digantungkan di atas ayunan bayi yang baru lahir) dan benda-benda tradisional lain.

Benda-benda koleksi museum jumlahnya mencapai 80 benda. Benda-benda tersebut berasal dari masyarakat. Museum desa merupakan program pengembangan perpustakaan desa. “Museum ini sebagai bagian dari upaya kami untuk tetap menjaga nilai-nilai kearifan lokal yang ada di Desa Dermaji.

Jadi jangan sampai generasi yang sekarang ini tidak tahu bagaimana masyarakat yang dulu atau nenek moyang mereka hidup, bercocok tanam dan perubahanperubahan sosial itu terjadi,” kata Kepala Desa Dermaji, Bayu Setyo Nugroho saat ditemui di ruang kerjanya, beberapa waktu lalu.

Menurut dia, museum ini sebagai media penghubung pengetahuan antargenerasi. Museum ini juga sebagai dokumentasi sejarah dan ruang belajar publik tentang kearifan lokal yang pernah tumbuh di Desa Dermaji. Dengan demikian, obor kehidupan masa lampau tidak akan padam. Semangat, kearifan lokal serta nilai-nilai yang pernah ada akan tetap lestari.

Museum Naladipa diambil dari nama kepala desa pertama Desa Dermaji, Kecamatan Lumbir. Ini sebagai bentuk penghormatan pemerintah desa kepada kepala desa pertama itu. Museum Naladipa diresmikan oleh Wakil Bupati Banyumas, saat itu dr Budi Setiawan pada 17 Juni 2013. Bayu mengatakan, museum ini untuk dimanfaatkan masyarakat umum.

Sasaran pengunjung museum ialah anak-anak usia sekolah dasar, SMPsederajat dan SMAsederajat. Museum ini juga kerap dimanfaatkan sebagai sarana penelitian bagi mahasiswa di Purwokerto.

Kode Batang

Selain mengetahui secara langsung koleksi benda museum, para generasi milenial dapat mengetahui penjelasan masing-masing benda. Setiap benda sudah dilengkapi keras nama benda beserta kode batang.

Caranya, pengunjung cukup memindai kode batang yang disediakan melalui ponsel pintarnya. Kode batang itu akan menautkan informasi dalam website desa. Ini akan semakin membuka pengetahuan bagi para pengunjung akan benda-benda tersebut. Bayu mengatakan, pemerintah desa akan berupaya untuk menambah koleksi benda-benda tradisional yang ada di masyarakat.

Bahkan, untuk menarik pengunjung, pihaknya berencana melengkapi dengan film dokumenter. Film ini akan menceritakan bagaimana masyarakat bercocok tanam, menggunakan ani-ani untuk panen padi, memasak nasi dengan dandang. “Film ini akan menceritakan kehidupan sehari-hari masyarakat desa pada masa lalu,” katanya. Museum ini juga akan terus dikembangkan.

Pada 2019, pemerintah desa berencana membangun gedung yang lebih representatif, sehingga dapat menampung banyak benda-benda tradisional yang digunakan sebagai sarana belajar masyarakat.

Editor : Agus WA

No comments:

Post a Comment