
Purwokerto – Masyarakat Banyumas diajak untuk semakin mewaspadai potensi bencana alam yang masih mengancam pada musim hujan ini. Kewaspadaan ini penting untuk mengurangi risiko bencana.
Ketua Tim Reaksi Cepat Penananggulangan Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (TRC PB BPBD) Banyumas, Kusworo, mengatakan, dari pemetaan BPBD, bencana alam terbagi atas tiga jenis.
Wilayah Banyumas bagian barat sering identik dengan bencana alam tanah longsor. Di Banyumas bagian tengah seringkali terjadi angin kencang. Di wilayah Banyumas bagian timur beberapa waktu lalu juga terjadi bencana banjir.
“Kalau potensi banjir adalah wilayah Kecamatan Sumpiuh dan Tambak terutama wilayah selatan jalan nasional Purwokerto-Yogyakarta. Sementara untuk wilayah utaranya masih rawan longsor seperti Banyumas bagian barat,” katanya. Dijelaskan Kusworo, upaya pengurangan risiko bencana (PRB) terus digalakkan oleh pemerintah bersama dengan masyarakat.
Melalui berbagai komunitas peduli bencana inilah, BPBD terus mendorong masyarakat untuk semakin waspada dan melaksanakan PRB. Kewaspadaan terhadap tandatanda alam juga didorong semakin ditingkatkan. “Di wilayah rawan longsor, waspadai gerakan tanah.
Di wilayah rawan angin, kami minta kesukarelaannya untuk memangkas pepohonan sekitar pemukiman yang rawan tumbang,” jelasnya. Sementara itu, dari pemantauan Suara Merdeka selama musim hujan ini, di Banyumas telah terjadi sejumlah bencana alam.
Di wilayah wilayah Kabupaten Banyumas bagian timur khususnya Kecamatan Sumpiuh, sebulan lalu juga telah terjadi banjir akibat luapan sungai. Kerusakan infrastruktur jalan, hingga rumah penduduk juga terjadi akibat bencana tanah longsor di wilayah Banyumas bagian barat antara lain di wilayah Kecamatan Kedungbanteng hingga Gumelar.
Sementara itu di wilayah Kecamatan Ajibarang, pergerakan tanah juga terus terjadi. Seminggu lalu, kejadian tanah longsor juga membuat satu rumah milik Kasiman, warga di Grumbul Kalisalak, Desa Karangbawang, terpaksa dibongkar.
Dua rumah lainnya, yaitu milik Sukardi (70) dan Sumardi (68) juga mengalami retak-retak akibat terancam pergerakan tanah. Istri Sumardi, Ruminah (68), mengaku khawatir setiap hujan deras terjadi. Apalagi bangunan rumah bagian belakang dalam kondisi telah menggantung.
Pasalnya bagian belakang rumah tersebut telah longsor hingga sedalam lima meter. “Pokoknya kalau sudah hujan besar, kami khawatir. Di sini saya tinggal bersama suami saja. Saudara saya, Kasiman, bahkan sudah pindah dari sini karena rumahnya rusak berat,” katanya.
Dijelaskan Ruminah, kondisi tanah bergerak telah terjadi selama tiga bulan terakhir, terutama ketika musim hujan tiba. Kondisi tanah di wilayah RT3 RW3 memang termasuk rawan longsor. Namun dari dulu, wilayah di bawah lokasi jalan kabupaten tersebut sudah menjadi pemukiman warga. “Kalau hujan deras, saya dan keluarga lebih baik mengungsi ke rumah saudara.
Kami pun tak berani kalau tinggal di rumah bagian belakang yang saat ini telah dalam kondisi terancam,” jelasnya. Dari pemantauan di lokasi kejadian, warga juga telah memasang pancang bambu di lokasi tanah longsor di lokasi tanah longsor di rumah Sumardi.
Meski telah dipancang bambu, namun kondisi tanah tersebut terus bergerak sehingga terus mengalami penurunan. “Karena itulah, kami sebagai warga berharap ada perhatian dari pemerintah desa ataupun daerah. Semoga segera ada penanganan sehingga kami tak terus menerus mengungsi ketika hujan deras turun,” katanya.
Sebagaimana penuturan warga, setelah kejadian tanah longsor tersebut, pemerintah desa telah mengadakan survei ke lokasi dan melaporkan kejadian tersebut kepada pihak terkait. Namun hingga kini belum ada kejelasan penanganan terhadap bencana tersebut. Padahal, warga sudah lama terus mengharapkan penanganan terhadap bencana alam tersebut.
Editor : Agus WA
No comments:
Post a Comment