
Bocah Kelas V SD Merawat Budenya Yang Menderita Diabetes dan Gagal Ginjal
Kemranjen- Prayudi (12 th) bocah kelas 5 SD Negeri 1 Grujugan Kecamatan Kemranjen Banyumas, begitu malang, di usianya yang masih kecil ia sudah kehilangan ibunya yang meninggal karena sakit kanker, ia kini harus hidup bersama uwaknya ( Budenya ). Nasib baik tidak dapat dinikmatinya dimasa kecil Prayudi.Ia kini harus merawat sang ibu angkatnya ( Budenya ) yang menderita penyakit diabetes dan gagal ginjal.
Samiem (51 th ) nama sang ibu angkat Prayudi harus pasrah tak berdaya lantaran penyakit gagal ginjal dan diabetes yang dideritanya. Sejak tiga bulan yang lalu sehari – hari Samiem hanya bisa beraktifitas di atas kursi roda, karena kondisi yang sangat lemah. Kaki seperti lumpuh tak bisa berjalan, padahal harus menjalani cuci darah seminggu 2 kali di RSUD Banyumas. Samiem sebenarnya memiliki suami, namun karena kondisi ekonominya, suami merantau mencari nafkah untuk kehidupannya. Secara otomatis Samiem hari – harinya berdua bersama Paryudi yang beralamat di RT 03 RW 08 desa Grujugan Kecamatan Kemranjen Banyumas.
Nasib baik juga belum berpihak kepada Ny Samiem bersama Prayudi, karena bantuan dari pemerintah belum bisa diterima, baru raskin / sembako yang pernah dia terima. Samiem juga pasrah jika nantinya sudah tidak memiliki dana untuk operasional cuci darah seminggu 2 kali tersebut maupun biaya menebus obat ke apotik.
Kisah ini haru diketahui oleh pihak sekolah karena Prayudi sering terlambat mengerjakan tugas daring. Ternyata Prayudi tidak bisa tepat waktu dalam mengerjakan tugas daring karena HP yang dimilikinya rusak, sehinga selalu menanti kebaikan hati teman sekelasnya Fajar yang selalu meminjami HP dan memberi tahu tugas dari gurunya.
Sehari-hari, bocah kelas 5 SDN 1 Grujugan Kec Kemranjen yang bercita cita menjadi pemain sepak bola ini dengan telaten mengurusi ibu angkatnya ( uwaknya ). Prayudi bangun pagi jam setengah lima, merebus air untuk mandi uwaknya, membuat minum dan menanak nasi, lauknya membeli atau Prayudi membuat lauk sendiri dengan dipandu oleh uwaknya cara meracik bumbu serta cara memasaknya. Jika mau berangkat cuci darah, Prayudi sering menyiapkan makan sendiri dari rumah untuk dimakan dirumah sakit bersama budenya, “ Untuk menghemat biaya” katanya.
Prayudi yang baru berumur 12 tahun juga sering menunggui uwaknya cuci darah sendirian di rumah sakit, jika tetangga atau keluarganya sedang kerepotan.Prayudi benar benar telah dewasa sebelum waktunya.
Ia menyelesaikan semua tugas rumah ( memasak, mencuci baju, menyiapkan makan, menyapu dsb ) sebelum mengerjakan tugas tugas sekolah secara daring dengan mendatangi rumah Fajar atau Fajar yang datang ke rumahnya yang sempit dan sumpeg.
Bantuan PIP yang diterima juga harus sangat dihemat semenjak ibu angkatnya menderita gagal ginjal dan harus cuci darah seminggu 2 kali, karena digunakan untuk membantu biaya transpot ke RSUD Banyumas dan menebus obat ke apotik. Tanah sejengkalpun telah terjual, untuk kebutuhan hidupnya dan biaya pengobatan penyakitnya
Samiem yang telah menderita gagal ginjal dan diabetes sejak 3 bulan ini hanya bisa pasrah dalam kondisi yang sangat lemah. Ia hanya pasrah menatap sang anak angkatnya ( keponakannya) Prayudi yang entah bagaimana masa depannya. Anak yang seharusnya riang gembira bermain, bersekolah, mengaji dan bercanda ria bersama teman seusianya, dia harus merawat budenya.
Sementara itu, dari Pemerintah Desa Grujugan, Samiem sebenarnya telah mendapat bantuan sosial Kartu Indonesia Sehat (KIS). Bantuan belajar untuk Prayudi Program Indonesia Pintar (PIP).Dari lembaga sosial COMPY ( Comunitas Pencinta Yatim ) Prayudi juga mendapat bantuan biaya sekolah. Bantuan lain yang diterima berupa pangan non tunai. Bahkan Pemerintah Desa Grujugan telah menyarankan keluarga Samiem untuk ke rumah sakit dengan mobil siaga ( ambulans ) milik desa Grujugan namun tidak ada biaya untuk membayar supirnya (aws)
