Friday, April 24, 2020

Dulu, Positif itu Bermakna Bagus


Dulu, ketika masuk Bulan Ramadhan, Syaitan Laknatullah yang dikurung, sekarang sepertinya di Bulan Ramadhan, manusia yang akan dikurung di rumah. Diluar ada Covid19, yang membuat semua orang lebih takut dari Syaitan Laknattulah

Dulu, kalau ada orang rajin ke Masjid namanya orang sholeh, sekarang orang sering ke Masjid dianggap orang salah, tidak mematuhi aturan. Sholat berjama’ah di Masjid seperti berbuat salah.

Dulu, keimanan pada Allah SWT yang harus diusahakan kuat, tapi sekarang imunitas yang justru diperhatikan supaya bertahan kuat dari Covid19.

Dulu, orang yang dicambuk kalau tidak pergi ke Masjid untuk Sholat Jum’at, tapi sekarang justru orang yang dicambuk kalau pergi Jum’atan dan Sholat Berjama’ah di Masjid.

Dulu, kalau ada orang bersin membaca : Alhamdulillah, tapi sekarang kalau ada orang bersin teriak : Innalillahi, sambil berlari bubar atau menjauh karena takut tertular Covid19.

Dulu, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, tapi sekarang bersatu kita runtuh bercerai dan berjauhan lebih baik karena ada Covid19

Dulu, ada tamu membawa rahmat dan dimuliakan, kini ada tamu dianggap bawa penyakit laknat Covid19 dan segera pergi bila urusannya sudah selesai.

Dulu, kalau kita bertemu orang berjabat tangan, berpelukan, cipika-cipiki, bahkan memperlama jabatan tangan, tapi sekarang kalau kita bertemu orang harus angkat kaki, adu sikut, adu jotos kepalan tangan bahkan ada yang adu bokong.

Dulu, Parfum Wangi dan Minyak Misik yang kita bawa didalam tas bila bepergian, tapi sekarang Hand Sanitizer, Masker dan Sabun yang harus dibawa.

Dulu, senyum adalah sedekah, namun sekarang kita tidak pernah melihat orang tersenyum. Meskipun tersenyum, namun kita tidak akan melihat senyumnya karena tertutup masker mulutnya.

Dulu, kata Negatif maknanya tidak Bagus, tapi sekarang jaman Covid19 justru kata Positif tidak bagus maknanya.

Dulu, pulang membesuk orang tua membawa kebahagiaan, tapi sekarang membesuk orang tua disangka membawa penderitaan. Ora Iso Mulih.

Dulu, kiyai, guru ngaji, imam sholat sangat dihormati, sekarang dihindari, karena ibadah dirumah saja

“MARHABAN YAA RAMADHAN”

No comments:

Post a Comment