
Kalibagor – Kuliner tradisional Banyumasan di Pasar Kuno Lereng di grumbul Kedung Ngenge, desa Petir RT. 01 – 03 / RW.IV. ( Tepatnya di jalan menuju jembatan Linggamas, SDN 2 Petir Sokaraja, belok ke kanan / selatan 400 meter ) kecamatan Kalibagor, kabupaten Banyumas, Jawa Tengah.
Menurut Kepala Pasar, Bambang Kuswanto, Pasar Kuno Lereng adalah milik pribadi Pengusaha Wisata, Sukarno, asli warga Petir yang kini tinggal di Jakarta.
Bambang menjelaskan arti kata Pasar Kuno Lereng adalah Pasar Zaman Dahulu Kala. Tujuan awal pembuatan Pasar Kuno Lereng ini adalah untuk melestarikan atau untuk nguri – uri budaya leluhur yang adi luhung. Selain itu untuk mengembangkan Sumber Daya Masyarakat ( SDM ) dan meningkatkan ekonomi rakyat grumbul Kedung Ngenge desa Petir. Seperti diketahui bersama, grumbul Kedung Ngenge ini dulu sepi nyenyet karena jalan buntu dan jauh dari keramaian.
Bambang menambahkan Pasar Kuno Lereng ini dibuka dan diresmikan oleh Bupati Banyumas, hari Minggu Pon, tanggal 9 Desember 2018. Jadi baru dua bulan yang lalu. Bersyukur bisa langsung ramai dikunjungi para wisatawan, walaupun di sana sini masih banyak kekurangan. Pasar buka setiap hari Minggu, pukul 06.00 – 13.00 siang.
Di Pasar Kuno Lereng ada tiga gubuk induk dari bambu beratap rumbia untuk kios penjual dan dua gubuk kecil untuk tempat penukaran koin atau kepeng Rp 2.000 dari batok kelapa. Pasar ini dikelola oleh 4 pegawai yang wajib berpakaian lurik khas Jawa, berblangkon, yaitu : 1. Bambang Kuswanto ( kepala pasar ), Edi Gunawan ( keamanan ), Isnadi, dan Kery ( markets boy ). Serta 4 petugas penukaran kepeng, yaitu : Intan, Intan Puspita, Elda, dan Nova.
Pasar Kuno Lereng saat ini menempati lahan sewa seluas 47 ubin. Dihuni 30 pedagang, yang menjual 120 jenis makanan tradisional yang terdiri dari jajanan pasar, minuman tradisional, gorengan, godhogan, dan makanan khas jaman kuno.
Jenis minuman tradisional yang dijual, antara lain : 1. Wedang Cleblek ( kopi ), 2. Wedang Jahe, 3. Wedang Uwuh, 4. Wedang 5. Dawet Ayu, 6. Badeg, 7. Es Cau, 8. Es Degan Ijo, 9. Es Kuwut, dan 10. Bajigur.
Jenis jajanan pasar, antara lain : 1. Ciwel, 2. Cenil, 3. Inthil, 4. Candil, 5. Buntil, 6. Gebral, 7. Grontol, 8. Krawu, 9. Lopis, 10. Gethuk, 11. Oyek, 12. Klepon, 13. Kemplang, 14. Srabi, 15. Awug – awug, 16. Naga sari, dan 17. Ronda Maya.
Jenis gorengan, antara lain : 1. Themplek, 2. Mendoan, 3. Bakwan, 4. Risoles, 5. Golang – galing, 6. Cireng, 7. Kethoprak, 8. Cokwe, 9. Martabak, 10. Peyek, dan 11. Ondhol.
Jenis makanan khas zaman dulu, yaitu : 1. Lontong, 2. Lemper, 3. Arem – arem, 4. Kupat, 5. Sega Gudeg, 6. Sega Abang, 7. Sega Kuning .8. Sega Udug, 9.Sega Rames, 10. Sega Pecel, 11. Sega Kluban, 12. Lontong Opor, 13. Kupat Tahu, 14. Kupat Lodeh, 15. Sate Keong, dan 16. Kupat Sayur.
Jenis makanan tradisional yang digodhog, yaitu : 1. Gedhang Godhog, 2. Kacang Godhog, 3. Endhog Godhog, 4. Nehog Puyuh Godhog, dan lain – lain.
Pak Adi, pengunjung dari Karang Pucung, Purwokerto, sangat terkesan dengan Pasar Kuno Lereng ini. Dia sama istrinya memborong nasi pecel, bakwan, dan dawet ayu. Duduk di bangku dan meja yang terbuat dari bambu wulung sambil menikmati musik Calung bambu di panggung bambu.
” Kesan tradisionalnya sudah cukup kental. Kalau boleh usul, untuk gelas plastik, piring dan gelas beling, diganti dengan piring lidi dan gelas dari bambu atau bathok kelapa. Panci untuk mengaduk adonan terigu juga jangan pakai panci seng , tetapi memakai belanga tanah liat. Pemain musik Calungnya juga, kalau bisa pakai baju lurik khas Jawa.
Editor : Agus WA

ECO RACING, Solusi Cerdas Hemat BBM.
No comments:
Post a Comment