Dandim 0701 Banyumas Kunjungi Wisata Bukit Pangonan Indah


Kemranjen. Dandim 0701 Banyumas, Letkol Inf Candra berkunjung ke obyek Wisata Bukit Pangonan Indah yang terletak di Desa Karanggintung Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Rabu, 26 Pebruari 2020.

Kedatangan Dandim juga dalam rangka penanaman Rumput Akar Wangi atau Vertiver di Bukit yang berjuluk “Negeri di atas awan” ini. Dan pengerjaannya dilakukan oleh anggota Kodim 0701 Banyumas bersama unsur Kepolisian, Pemerintah Kecamatan Kemranjen, BPBD, Tagana, Pokdarwis, PKK, dan Pramuka Peduli Kwarran Kemranjen.

Danramil 11 Kemranjen Kapten Cba Ahmad Mansur mendampingi kegiatan Dandim. Sejak ditempat transit, kegiatan di Bukit Pangonan dan silaturahmi ke Tokoh Petani Durian. ” Kodim 0701 Banyumas telah menanam rumput akar wangi atau vertiver di Bukit Pangonan Indah agar memperkuat kontur tanah sehingga tidak mudah longsor,” demikian tutur Danramil, yang juga berpesan kepada warga agar merawat tanaman tersebut.

Monday, February 24, 2020

KODIM 0701 BANYUMAS LAKSANAKAN RAKORPERSIAPAN PEMBUKAAN TMMD SENGKUYUNG I TAHUN 2020


Banyumas – Dalam rangka mematangkan persiapan pembukaan TNI Manunggal membangun Desa (TMMD) Sengkuyung Tahap I TA. 2020 di Desa Karangmangu Kecamatan Purwojati Kabupaten Banyumas, Kodim 0701/Banyumas melaksanakan rapat koordinasi, bertempat di Aula Makodim 0701/Banyumas dengan peserta dari Dinas dan Jawatan terkait Kabupaten Banyumas. Senin (24/02/2020)
Adapun kegiatan sasaran fisik TMMD Sengkuyung I TA. 2020 adalah Pengaspalan jalan sepanjang 1.600 m x 3 m, serta Perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Disamping sasaran fisik juga dilaksanakan kegiatan non fisik berupa penyuluhan-penyuluhan seperti Penyuluhan tentang peningkatan hasil panen melalui tekhnologi modern, Penyuluhan budi daya ikan air tawar, Penyuluhan KB dan Kesehatan, Penyuluhan tentang Undang-Undang Perkawinan, Penyuluhan Wawasan Kebangsaan, Penyuluhan Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Penyuluhan tentang Kamtibmas, dan lain-lain.
Komandan Kodim 0701/Banyumas Letkol Inf Candra, S.E., M.I.Pol dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan TMMD merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun, dan kegiatan ini adalah dalam rangka mempercepat pelaksanaan pembangunan di daerah dan utamanya lagi adalah daerah yang masih membutuhkan percepatan.
Lebih lanjut disampaikan Dandim bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata Kemanunggalan TNI dan Rakyat serta memberdayakan masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah untuk mendukung suksesnya pembangunan nasional.

Editor : Agus WA

Hari Jadi Ke 449 Kabupaten Banyumas


Komandan Kodim 0701 Banyumas beserta Staf dan Seluruh Anggota Kodim 0701 Banyumas mengucapkan Selamat Hari Jadi ke 449 Kabupaten Banyumas.

Thursday, February 20, 2020

Brio Sruduk Scoopy dan Beat, 2 Orang Tewas


Banyumas. Petugas Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kota Banyumas menyelidiki kecelakaan lalu lintas antara satu mobil dan dua sepeda motor di Jalan Jenderal Soedirman, Sokaraja, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang menewaskan dua orang pengendara sepeda motor.

“Kejadian pada Kamis (20/2) sekitar pukul 04.50 WIB. Pengendara mobil (Honda) Brio dengan kecepatan tinggi, dari analisis petugas (berdasarkan rekaman kamera pengintai/CCTV) berkisar 100-110 kilometer per jam, oleng ke kanan dan masuk ke jalur berlawanan,” kata Kepala Satlantas Polresta Banyumas Komisaris Polisi Davis Busin Siswara saat olah tempat kejadian perkara (TKP) di Sokaraja, Kamis.

Pada saat bersamaan, kata dia, dari arah berlawanan datang dua sepeda motor, yakni Honda Scoopy berpelat nomor R-2487-PR yang dikendarai Aman (31) dengan membocengkan istrinya, Zulvy (29), serta Honda Beat berpelat nomor R-4615-YG yang dikendarai Sidik (28).

Oleh karena lepas kendali, mobil Honda Brio berpelat nomor B-1702-TYG yang dikemudikan Deska (24) dari arah Purbalingga itu menabrak dua sepeda motor tersebut. Laju mobil Honda Brio tersebut terhenti setelah menabrak pagar keliling sebuah toko yang berada di tepi jalan itu.

“Pengendara Honda Scoopy sedang menyalip Honda Beat dengan kecepatan sekitar 60-70 kilometer per jam. Jadi, Honda Brio menabrak Honda Scoopy dulu yang berboncengan, informasinya suami-istri, kemudian menabrak Honda Beat,” ungkap Kasatlantas.

Menurut dia, korban atas nama Aman dan Zulvy, warga Desa Kedungmalang RT 05 RW 01, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, yang diketahui tidak sadarkan diri pascakecelakaan itu segera dibawa ke RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto.

Demikian pula dengan pengendara sepeda motor Honda Beat, Sidik, warga Desa Sokaraja Kulon RT 02 RW 05, Kecamatan Sokaraja, Kabupaten Banyumas, hanya mengalami luka lecet dan masih dalam kondisi sadar, sedangkan pengendara mobil Honda Brio, DS, warga Desa Blater RT 01 RW 05, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, mengalami luka lecet di tangan dan kepala, dibawa ke RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo, Purwokerto.

Akan tetapi sesampainya di rumah sakit, korban atas nama Aman dan Zulvy diketahui telah meninggal dunia.

Lebih lanjut, Kasatlantas mengatakan pihaknya masih melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab kecelakaan tersebut.

“Dugaan sementara, kecelakaan terjadi akibat kelalaian pengemudi Honda Brio yang saat ini masih diobservasi di rumah sakit karena ada luka di kepala. Nanti kami akan minta keterangan dari yang bersangkutan,” tuturnya.

Australian Army of Skill at Arms Meeting Merupakan Ajang Bergengsi Adu Menembak para Tentara


Militer News. Indonesia menjadi negara yang militernya selalu di segani dan diperhitungkan oleh negara Adidaya. Baik pada penugasan dengan Bendera PBB atau ajang lomba menembak antar negara. Karena militer Indonesia tidak bergantung pada tehnologi alutsistanya, melainkan juga mengandalkan skill personal Tentaranya. Hal ini untuk membuktikan kepada negara lain bahwa TNI konsisten membangun diri menjadi Tentara modern dan profesional menuju Word Class Army yang tangguh.

Di ajang bergengsi adu skill menembak internasional, Australian Army of Skill at Arms Meeting (AASAM), TNI sudah menjadi langganan meraih gelar juara setiap tahunnya. TNI telah mengharumkan nama Indonesia di mata dunia setiap tahun. Sampai saat ini hanya TNI yang konsisten dan kontinyu meraih prestasi itu. Selain itu, untuk membuktikan pada dunia International bahwa produk dalam negeri bisa mengalahkan produk benua Amerika, Eropa dan Australia berkat Senapan Serbu buatan PT Pindad, yaitu SS2.

Bahkan senjata produksi anak bangsa Indonesia ini (SS2)dapat mengalahkan Senjata Steyer buatan Austria. Senjata ringan dan berteleskop ini (steyer) merupakan Senapan Serbu terbaik di dunia. Namun kenyataannya, negara yang menggunakannya tidak menjadi Juara. TNI telah kesekian kalinya menunjukkan darma bakti terbaiknya untuk NKRI. Jaya Negeriku, Mantap TNI !

Friday, February 14, 2020

SENSUS PENDUDUK 2020 Dimulai


Saat ini silahkan cek keberadaan NIK KTP dan Nomor Kartu Keluarga (KK) Anda apakah sudah terdaftar melalui:

https://sensus.bps.go.id/cek

Sensus Penduduk Online akan dimulai pada 15 Februari 2020 hingga 31 Maret 2020.

Pastikan Anda dan keluarga Anda tercatat dalam Sensus Penduduk untuk data kependudukan yang akurat.

Isi sensus secara online melalui:

https://sensus.bps.go.id

Jika Anda tidak berhasil berpartisipasi di SP Online jangan takut, nanti Juli 2020 Petugas Sensus akan mendata melalui Sensus Penduduk Wawancara.

Mohon dapat meneruskan informasi ini kepada seluruh sahabat, rekan kerja, lingkungan komunitas, lingkungan keluarga, tetangga, dan seluruh kontak atau grup medsos yang Bapak/Ibu miliki.

Terima kasih🙏🙏Mari bersama,

Thursday, February 13, 2020

Forkompimda Kabupaten Banyumas Ziarah Ke Makam Joko Kaiman


BANYUMAS : Bupati Banyumas Achmad Husein dan Wakil Sadewo Tri Lastiono bersama DPRD, Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkompinda), serta para pejabat eksekutif di jajaran Pemkab Banyumas, melaksanakan ziarah ke makam R Joko Kaiman Bupati Pertama Banyumas, di makam Dawuhan, Banyumas Jumat (14/2/2020). Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan dalam rangka peringatan hari jadi Kabupaten Banyumas. Pada peringatan hari jadi yang ke 449, yang jatuh pada 22 Februari 2020, rombongan Bupati melakukan ziarah, dengan mendoakan bupati pertama R Joko Kaiman serta menaburkan bunga di pusara pendiri Banyumas tersebut.

“Tujuan kami dan rombongan adalah mendoakan Raden Djoko Kaiman atau Adipati Mrapat, Bupati pertama Banyumas yang sudah mendirikan Banyumas hingga saat ini,” kata Bupati.

Ziarah diawali dengan tahlilan yang dipimpin oleh juru kunci Makam Dawuhan Sukirman. Bupati Banyumas Ir Achmad Husein didampingi, Wakil Bupati dr Budhi Setiawan, Ketua Komisi DPRD Subagyo, Sekda Banyumas Wahyu Budi Saptono dan anggota Forkompinda, berada di cungkup makam mereka memanjatkan doa bersama.

Ziarah diakhiri tabur bunga di pusara makam Raden Djoko Kaiman yang dipimpin oleh Bupati Achmad Husein diikuti undangan lainya.

Dalam sambutan pengantar Bupati menyampaikan bahwa Banyumas bisa seperti sekarang berkat pengabdian, perjuangan, dan kerja keras pada bupati terdahulu. Menurutnya Raden Joko Kaiman mempunyai jiwa yang kesatria dan tidak mementingkan diri sendiri. Ketika mendapat hadiah dari Sultan Pajang Hadiwijaya berupa Penobatan sebagai Adipati Warga Utama II, tapi karena keiklasannya beliau membagi wilayah kekuasaanya menjadi 4 kepada saudara-saudaranya yang lain.

“Jiwa kesatria dan rela berkorban inilah yang patut kita tauladani” ungkapnya.

Untuk itu bupati mengajak agar acara ziarah ini, dapat diambil manfaat disamping untuk mengenang jasa bupati terdahulu juga sebagai intropeksi diri, dan rasa untuk menghargai para pendahulu.

Usai acara sambutan, doa dan tabur bunga, bupati keluar cungkup, membagikan uang kepada warga setempat. Bupati, wakil bupati, ketua DPRD, dan Formkompinda masing masing memegang segepok uang pecahan dua ribuan dan sepuluh ribuan untuk dibagi-bagikan. Setiap orang dewasa diberi selembar duapuluh ribuan sedangkan anak-anak diberi sepuluh ribuan. Kegiatan ini menjadi tradisi yang dilakukan setiap tahun, sehingga masyarakat tahu dan selalu menunggu.

Seusai berziarah, Bupati dan rombongan melanjutkan perjalan ke Pendopo Duplikat Pendapa Sipanji Kecamatan Banyumas, untuk mengadakan tasyakuran dan menyaksikan pagelaran wayang ruwatan.

Boyongan Replika Saka Sipanji Hari Jadi Kabupaten Banyumas


Kirab Boyongan Replika Saka Sipanji, dari Pendopo Kecamatan Banyumas menuju Pendopo Sipanji Purwokerto akan dilaksanakan Sabtu (15/02/2018) mendatang. Gotong royong atau sambatan yang biasa disebut “rengos” itu merupakan rangkaian Hari Jadi Banyumas ke 449. Sedangkan untuk acara Ziarah ke Makam Djoko Kahiman di Makam Dawuhan akan dilaksanakan Jumat (14/02/2020) pagi, dilanjutkan tasyakuran dan ruwatan di Pendopo Duplikat Sipanji Kecamatan Banyumas.

Kepala Bagian Protokol dan Komunikasi Pimpinan Setda Kabupaten Banyumas Deskart Sotyo Djatmiko mengatakan rombongan prosesi boyongan dari Pendopo Duplikat Sipanji direncanakan jam 10 pagi kepada para peraga dan dilanjutkan dengan utusan warga ikut sambatan atau rengos membawa saka secara estafet dengan berjalan kaki.

“Kirab Boyongan Replika Saka Sipanji dengan cara sambatan atau ‘rengos’. Sebanyak tiga saka diboyong dari Banyumas, dan satu saka (Saka Sipanji) seakan-akan sudah dibawa sebelumnya ke arah timur tidak melewati Sungai Serayu dan ketemu di Alun-alun Purwokerto dari arah barat, karena nemurut hikayatnya apabila saka tersebut melewati Sungai Serayu akan berakibat bencana banjir,” katanya.

Untuk rute yang akan dilewati melalui jalur normal yaitu Banyumas, Kalibagor, Sokaraja, Berkoh, Jalan Jenderal Soedirman menuju Pendopo. Menurutnya, konsep tahun ini dilaksanakan seperti tahun lalu yaitu secara estafet dengan berjalan kaki. Masyarakat yang dilewati ikut berpartisipasi dengan cara ikut memikul replika saka sipanji dan perlengkapan lainya.

“Adapun jarak tempuh yang akan dilalui mencapai 16,4 km dan akan dibagi menjadi 16 etape kecil dan lima etape besar. Etape kecil pergantian antar desa/ kelurahan dan etape besar pergantian antar kecamatan,” jelasnya.

Peraga Kirab prosesi saat ini Kamis (13/02/2020) sudah melakukan gladi,nantinya para peraga agar terlihat klasik dan gayeng, mereka akan menggunakan pakaian adat Banyumas.

“Karena konsep sambatan tadi, setiap etape melibatkan semua unsur masyarakat. Satu saka dipikul oleh empat orang secara bergantian dan akan diikuti dibelakangnya kesenian yang dimiliki oleh masyarakat desa setempat secara estafet,” katanya.

Boyongan sipanji dijadwalkan sampai di Pendopo Sipanji Purwokerto Jam 15.00 WIB. Sesampainya di Pendopo akan dilaksanakan adat prosesi pembangunan pendopo, usai berdiri Saka Siapanji digelar hiburan Lengger Banyumasan.

“Konon cerita Saka Sipanji mau dipindah salah satu syaratnya adalah minta hiburan lengger,” tambah Jatmiko.

Monday, February 3, 2020

Babinsa Koramil 11 Kemranjen Dan Dinas Kesehatan Banyumas Memvogging Desa Kebarongan


Serda Sudarso, Babinsa Kebarongan Koramil 11 Kemranjen sedang mengoperasionalkan alat Vogging.

Kemranjen. Nyamuk Aedes Aegypti merupakan penyebab penderita Demam Berdarah. Penyakit dengan ciri khas bintik merah di kulit penderitanya ini terkadang membawa kamatian. Tapi ada juga yang sembuh dengan perawatan medis yang intensif melalui rawat inap.

Untuk mencegah berkembangbiaknya Nyamuk dengan lingkar warna putih di tubuhnya ini, Babinsa Kebarongan Koramil 11 Kemranjen Serda Sudarso bersama Tim Vogging dari Dinas Kesehatan Banyumas melaksanakan pengasapan (Vogging) di wilayah Rt 01 Rw 10 Desa Kebarongan Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas. Senin, 03 Pebruari 2020.

Kegiatan Pengasapan (vogging) ini juga bertujuan untuk memutus mata rantai penyebaran dan penularan penyakit demam berdarah kepada yang sehat, karena, Demam Berdarah ini gampang sekali menular. Tapi tidak perlu resah, bila ada gejala segera berobat. Bila perlu akan diadakan Vogging.

Kapten Cba Ahmad Mansur selaku Danramil 11 Kemranjen Kodim 0701 Banyumas mendukung penuh dengan upaya yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten Banyumas yang telah melaksanakan kegiatan Vogging di Desa Kebarongan. ” Saya sampaikan kepada Serda Sudarso selaku Babinsa Kebarongan untuk ikut kegiatan vogging di desa binaannya. Dan harus bisa mengoperasionalkan alat vogging bersama Tim dari Dinas Kesehatan Banyumas “, demikian tutur Danramil saat mengikuti Rapat Musrenbangdes di Kantor Kecamatan Kemranjen.

Editor : Agus WA

Sunday, February 2, 2020

Angin Kencang dan Hujan Deras Menerjang Wilayah Kecamatan Kemranjen Kabupaten Banyumas


Kemranjen. Hujan dan Angin merupakan berkah bagi mahluk hidup. Tidak ada Hujan, tidak ada Angin mustahil kehidupan itu dapat berlangsung dengan baik. Meskipun begitu, Hujan dan Angin dapat memiliki dampak kerusakan yang luar biasa bila datangnya secara tiba-tiba dengan kekuatan besar (shocking moment). Dan inilah yang disebut namanya ” Bencana Alam ” (Natural Disaster)

Di wilayah Kecamatan Kemranjen ada Lima Desa yang dilaporkan terdampak langsung adanya Angin Kencang dan Hujan Deras yang terjadi pada Sabtu, 01 Pebruari 2020, sekitar pukul 17.30 WIB. Desa tersebut meliputi : Desa Karangjati, Desa Kecila, Desa Kebarongan, Desa Alasmalang dan Desa Karanggintung. Berdasarkan data yang dihimpun dari petugas dilapangan (Babinsa, Babinkamtibmas, Tagana, BPBD, Pramuli dan Relawan), sebagian besar melaporkan adanya pohon tumbang, talut longsor dan atap rumah yang runtuh. Tidak ada korban jiwa yang dilaporkan, dan kerugian meteri masih dihitung sebagai dasar laporan ke dinas terkait.

Sedangkan warga Kecamatan Kemranjen yang mengalami dampak langsung dari Angin Kencang dan Hujan Deras ini diantaranya : 1. Suryanto, alamat Rt 1 Rw 7 Desa Karangjati. Atap Rumah runtuh.

  1. Untung, alamat Rt 2 Rw 3 Desa Karangjati. Pohon Mangga tumbang menimpa atap rumah.
  2. Paijo, alamat Rt 1 Rw 2 Desa Alasmalang. Pohon Pete tumbang menimpa atap rumah.
  3. Ustad Wauzan, alamat Rt 2 Rw 3 Desa Kebarongan. Atap rumah Tertimpa pohon jati.
  4. Sairan, alamat Rt 2 Rw 3 Desa Kecila. Pohon jati roboh menimpa atap rumah.
  5. Muklis Sodikin, alamat Rt 3 Rw 4 Desa Karanggintung. Pohon Jati Sabrang roboh menimpa atap rumah dan Warung.
  6. Muslih, alamat Rt 1 Rw 2 Desa Karanggintung. Pohon Jati Sabrang roboh menimpa Atap Teras Rumah. Selain itu di Desa Karanggintung juga dilaporkan ambrolnya Talut SDN 1 Karanggintung dan tumbangnya sejumlah Pohon Cengkeh.

Selain mendata jumlah warga yang terkena dampak langsung dari peristiwa tersebut, juga dilaksanakan kegiatan penanganan pasca kejadian, pada Hari Minggu 02 Pebruari 2020. Bentuk kegiatannya adalah pembersihan material tanah yang longsor menutupi jalan, penebangan pohon yang menimpa rumah warga dan pembersihan puing-puing rumah warga yang atapnya runtuh. Kegiatan ini juga melibatkan seluruh komponen, seperti : Para Babinsa dari Koramil 11 Kemranjen, Polsek Kemranjen, Taruna Tanggap Bencana (Tagana) Dinsos Banyumas, Pramuka Peduli Kwarran Kemranjen dan Kwarcab Banyumas, Satlinnas, serta Relawan dari Ormas.

H Adi Candra, selaku Koordinator Tim Tagana Kabupaten Banyumas yang bertugas di wilayah Kecamatan Kemranjen berpesan agar warga tetap hati-hati dan waspada. Mengingat curah hujan saat ini masih tinggi dan kategori lebat. Bila ada masyarakat yang membutuhkan bantuannya, pihaknya setiap saat siap untuk membantu. Dan Mas AC, panggilan akrabnya, juga berterima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung tugasnya mengevakuasi dampak dari kejadian tersebut.

Editor : Agus WA

Saturday, February 1, 2020

Mengingat Lupa : G 30 S PKI


Mayjend Soeharto. Ketika menjadi Pangkostrad.

Jakarta – Sebelum meneliti siapa Soeharto saat itu, you musti lihat literatur dan kenali dulu siapa-siapa Jenderal yang menjadi korban PKI, literatur yang akurat berdasarkan fakta bisa dilihat di ANRI. Semua yang diculik PKI adalah satu gerbong dengan Nasution dan Yani. Kesemuanya Deputy dan dan Assisten Menpangad plus 1 Brigjen pimpinan Oditur Militer (Mayjen Anm Sutoyo). Rombongan inilah yang sering berhadapan dengan PKI, saat pertemuan satu meja di kabinet ataupun pada pertemuan/rapat kenegaraan lainnya.

Bisa dibayangkan betapa benci dan dendamnya PKI kepada kelompok petinggi militer ini. Bersama Pak Nas dan Yani para Deputy dan Assiten ini secara kompak sering bersitegang dan menentang apa-apa yang diusulkan PKI. Hingga kadang PKI tidak berkutik dibuatnya.

PKI terlihat akrab bersama Bung Karno dalam Nasakom, punya klaim pengikut hingga 10 juta massa, memiliki puluhan Underbow binaan. Dari yang namanya CGMI, SOBSI, PR, BTI, Fadjar Harapan, Pemuda sosialis Indonesia, Lekra, hingga Gerwani, namun saat itu ABRI tidak gentar menghadapi segala manuver-manuver PKI. mereka dengan tegas selalu melawan usulan-usulan PKI yang dinilai membahayakan Pancasila.

Negara saat itu mempunyai lebih dari 10 Menteri yang mendukung PKI, dan juga punya banyak anggota Parlemen karena menduduki peringkat ke-4 di Parlemen sebagai Legislator alias Anggota DPR RI. PKI tinggal berhadapan dengan ABRI agar bisa memuluskan rencananya menguasai Pemerintahan Negara ini bila Bung Karno Wafat. Namun berulang kali usaha-usaha mereka patah, saat berhadapan dengan orang yang mereka sebut dalam fitnahan Dewan Jenderal.

Dewan Jenderal merupakan sebutan untuk sebuah kumpulan khayalan PKI, dengan maksud agar dipropaganda-kan sebagai grup Jenderal penentang Bung Karno. Sebenarnya tidak ada istilah Dewan Jenderal dalam negara kita saat itu. Isu Dewan Jenderal sengaja dihembuskan PKI, namun fakta nyata saat itu menunjukkan bahwa para Jenderal yang dituduh PKI tersebut rupanya semuanya adalah Jenderal yang menentang PKI, mereka Jenderal yang sangat Pancasilais dan mencintai Bangsa serta patuh pada pemerintah yang syah. Sejatinya mereka bukan seperti yang dituduhkan PKI, yaitu diam-diam menentang Soekarno. Agar BK dan rakyat membenci mereka, maka PKI mengkondisikan agar fakta sesungguhnya bisa dibalik menjadi fitnahan untuk Dewan Jenderal, hingga ada alasan menyudutkan Pak Nas, Yani dan rekan. Bahkan membunuh mereka.

Soeharto yang berada di luar gerbong tidak dianggap anggota Dewan Jenderal, Soeharto memang berpangkat Mayjen, namun bertugas menjadi Panglima Kostrad. Beliau berada di tengah pasukan, bukan berada di dalam pemerintahan. Otomatis PKI tidak memandang beliau sebagai sosok militer yang berbahaya.

Sekarang renungkan dan baca baik-baik secara logika yang sehat. Inilah contoh nyata sepak terjang Para Jenderal yang membuat PKI gondok marah ;

Pada awal 60-an,
untuk melawan (baca: membendung) agitasi PKI maka ABRI membentuk Partai Politik bernama Golongan Karya, saat itu PKI dengan menggunakan Bung Karno berhasil memfitnah Masyumi dan Murba sampai-sampai BK membubarkan 2 Partai yang menjadi saingan PKI ini. Terbentuknya Golkar membuat PKI kesal, sebab sangatlah sulit untuk dihancurkan karena pendirinya para Jenderal aktif.

Selanjutnya ketika kampanye Dwikora yang mengeluarkan resolusi perang Ganyang Malaysia, inilah momen bagi PKI membentuk sukwan sukwani alias sukarelawan perang, dengan harapan kelak bisa mereka manfaatkan seperti Tentara Rakyat Komunis di China saat melakukan revolusi. Namun sial bagi PKI, kekuatan dan kecerdasan intelejen MT.Haryono, Suprapto, S.Parman, dan Panjaitan membuat ABRI tidak terlalu mendukung perang itu. Kita saja tahu bahwa Perang Ganyang Malaysia itu akibat provokasi PKI terhadap BK, agar mendapat bantuan senjata dan dana dari RRC, apalagi Jenderal intelejen ABRI saat itu begitu ketat memperhatikan segala gerak gerik PKI. Hingga provokasi dan segala giat PKI mampu terbaca oleh ABRI,  dan akhirnya konfrontasi dengan Malaysia tidak terlalu serius dijalani dan didukung oleh ABRI

Pertentangan terhadap PKI bersambung, Nasution dan Yani dan rekan-rekan kembali  kompak dan keras menolak usulan angkatan kelima Buruh Tani. Ini adalah sebuah usulan gila karena PKI meminta pada BK agar buruh tani dipersenjatai oleh Negara. Petinggi ABRI sontak menolak, karena ABRI mencium adanya gerakan persiapan pemberontakan dibalik usulan ini jika Negara menyetujuinya. ABRI juga melihat ada gelagat/niat PKI untuk membentuk pasukan bersenjata yang ilegal untuk memperkuat posisi mereka, gerakan ini tercium, dan serta merta ABRI menolak keras, meski usulan itu dibalut alasan untuk perang hadapin Malaysia.

Belum lagi saat Brigjen Panjaitan menyita 50 ribu pucuk senjata mencurigakan selundupan dari RRC di Tanjung Priuk, senjata itu yang merupakan pesanan PKI, betapa hancurnya hati petualang-petualang Aidit, Syam, Nyoto, Sakirman, Lukman, Nyono, Sudisman, Latief. Hingga saking bencinya Sakirman maka dia memasukkan nama adiknya S.Parman agar turut dihabisin juga, karena S.Parman adalah Assisten Jend Yani.

Contoh lain adalah ketika begitu kerasnya statemen Yani prihal pembunuhan Pelda Sujono, anggota TNI di Bandar Betsi, Sumatera Utara oleh segerombolan Komunis, Yani dalam pidatonya memerintahkan kepada semua Prajurit angkatan darat untuk “Asah Sangkurmu” dan bersiap menghadapi Komunis dan segala kemungkinan yang akan terjadi. Artinya Yani memproklamirkan persiapan perang terhadap PKI.

Puncaknya,
PKI yang merasa sudah sangat dekat dengan Bung Karno kaget plus sakit hati, saat BK pun pernah mengatakan bahwa pengganti dia kelak adalah Yani. Aidit dan Syam panik luar biasa, apalagi Tim Dokter RRC mengatakan bahwa umur BK tidaklah lama lagi, antara mati atau lumpuh total. Aidit berkehendak menjadi Presiden. Namun BK berkehendak lain. Di luar dugaan BK berniat menyerahkan Negara Kepada Yani, tidak kepada Aidit.

Artinya kalo Yani jadi Presiden maka kecil harapan PKI untuk menguasai atau berkiprah di negara ini. Sangat susah mereka meloloskan niat untuk mengubah Pancasila dan menjadikan Komunis sebagai ideologi Negara. Dan pasti barisan S.Parman cs sebagai Deputy dan Assisten tadi semakin solid menentang PKI.

Soeharto walaupun seorang Mayor Jenderal saat itu, namun beliau tidak selalu bersama Nasution dan Yani karena lebih banyak bersama Pasukannya di Kostrad. Dia kagak ada urusan untuk berdebat dan menentang secara nyablak seperti Pak Nas dan Yani karena Soeharto bukan memegang jabatan yang mengharuskan dia untuk selalu mendampingi Pak Nas atau Yani. Soeharto tidak termasuk barisan ABRI yang bisa menganulir tiap usulan sesat PKI di pemerintahan

Begitupun Brigjen Oemar Wirahadikusuma dan Kol Sarwo Edhie dan juga para Pangdam teritorial lainnya. Semua rata-rata berpangkat bintang Jenderal. Belum lagi ditambah dengan para Kepala Staf 3 Angkatan lain, kecuali Oemar Dhani yang memang terlibat PKI. Semua mereka adalah Laksamana, Komodor dan Jenderal juga. Namun mereka semua bukan Deputy dan Assisten dan Nasution dan Yani.

PKI bergerak Goblok, dengan menganggap bahwa kalo barisan Nasution dan Yani mereka hancurkan lantas, semua pasukan ABRI akan mampu mereka kuasai. Karena gerakan mereka tidak diridhoi Allah SWT, maka rencana gagal total. Rakyatpun tidak mendukung gerakan kudeta ini.

Mereka teramat tolol menganggap kalo kepala udah ditundukkan maka badan dan ekor akan takluk. PKI lupa bahwa ketika menghantam kepala kalajengking maka seketika buntut ekornya balas ganas menyerang dengan sengatan beracun membunuh.

Ketika Pasukan gabungan dikerahkan Soeharto merangsek masuk ke wilayah Lubang Buaya, para dedengkot PKI panik.  “Kita sudah kalah” ujar Brigjen Suparjo pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965.
” Jawa tengah akan berbicara teman-teman” balas Sjam Komaruzaman.
Sedang Letkol Untung sepanjang hari hanya diam termenung dan sorenya kabur ke Tegal.

Perhitungan PKI sangat buruk. Semakin parah kelakuan mereka dengan alih-alih percaya diri menangkap Jenderal tertinggi ABRI, di rumah Nasution Tjakrabirawa hanya mampu menembak Balita kecil (Ade Irma gugur 6 Oktober 1965 setelah dirawat intensif), Prajurit Tjakra Kopral Hagiono memuntahkan 5 peluru menembus Balita Kecil itu, di halaman depan, pasukan  menembak mati Polisi muda Satsuit Tubun, dia yang hanya piket pengawal di rumah Waperdam J Leimena, kebetulan bersebelahan dengan rumah Pak Nas. Berlanjut Saking gobloknya mereka tidak mampu membedakan mana Panglima ABRI dan mana Ajudannya. Pierre Tendean-pun mereka bawa dan aniaya hingga gugur di Lubang Buaya.

Setelah lolos dari maut, selanjutnya Nasution bergabung dengan Soeharto untuk menyusun strategi melawan PKI. Andai Soeharto terlibat PKI maka tidaklah mungkin Pak Nas mau bergabung ke beliau dan bermarkas di Kostrad, serta bahu membahu menghantam PKI.

Dan jika memang Soeharto mendukung atau terlibat dengan PKI lantas apa ada saksi hidup saat itu yang melihat Soeharto bersama PKI, paling tidak apakah ada photo/dokumen yang menunjukkan dia bersama dan berkumpul bersama Aidit atau dengan pimpinan PKI lain? Dari sini saja bisa pelajari lagi. Jika memang Soeharto tidak dibunuh karena terlibat PKI, maka tidak masuk akal kenapa sepanjang perjalanan gemilang PKI sejak 1948 hingga 1965 tidak ada satu photo-pun atau dokumen tentang kebersamaan petinggi-petinggi PKI bersama Soeharto. Hanya fakta yang bisa memastikan fitnahan terhadap Soeharto ini benar atau tidak. Dan tidak ada fakta yang bisa menunjukkan keterlibatan Soeharto meski hanya selembar photo atau secarik dokumen.

Terus, dalam persidangan Subandrio dan Oemar Dhani serta yang lainnya, apa ada kesaksian mereka yang jelas menyebut Soeharto bagian dari mereka. Karena untuk mengakui hal itu sangatlah dimungkinkan mengingat para terdakwa semuanya tipis harapan untuk lolos dari hukuman mati. Lah bagi mereka eksekusi mati udah pasti, lantas mau ngapain lagi kalo ngga mau jujur.

Nyatanya tidak ada kesaksian dari mereka tentang keterlibatan Soeharto.

Kesimpulannya:
Artinya posisi Soeharto dianggap tidak penting, begitupun Pangdam DKI Umar dan Kasal RE Martadinata meski semua mereka adalah Jendral dan Laksamana setingkat Jenderal. Dan PKI bertindak langsung mengumumkan bahwa kekuasaan ABRI sementara diambil alih oleh Letkol Untung. Hal inj disampaikan pada pagi hari 1 Oktober 65 di RRI. PKI memperhitungkan bahwa semua Jenderal lain akan mematuhi pengumuman itu. Tapi perhitungan mereka salah besar.
Justru Soeharto dan rekan-rekan yang menghancurkan mereka.

Jadi tuduhan yang berkembang bahwa Soeharto tidak diculik karena terlibat PKI adalah omong kosong belaka, tuduhan memutar balik fakta khas komunis, ditambah lagi keturunan dan simpatisan PKI dendam terhadap sikap heroik Soeharto dalam membumi hanguskan semua unsur-unsur yang mengandung Komunis, Marxis dan Leninsme.

Asumsi sederhananya begini ;
Kasus Soeharto tidak bisa disamakan pada kejadian pada Marsekal Oemar Dhani dan Brigjen Suparjo. Kedua Jenderal ini terlibat G30S/PKI, jadi memang tidak mungkin diculik dan dibunuh. sangat berbeda dengan Mayjen Soeharto dan Brigjen Umar Wirahadikusuma dan Laksamana RE.Martadinata yang tidak terlibat PKI, mereka tidak dibunuh karena dianggap remeh PKI, dalam teori mereka cukup hanya bunuh semua pimpinan mereka di Mabes ABRI dan otomatis yang lain langsung tabik tunduk.

Antara Soeharto dan mereka memang sama-sama berpangkat Jenderal dan sama-sama tidak diculik, namun yang membedakan mereka adalah status ideologi yang dianut. Dan Soeharto tidak berhaluan Komunis. Soeharto Pancasilais dan militer sejati, tidak ke kanan dan ke kiri.

Setelah kekalahan telak PKI. Hanya  simpatisan dan keturunan PKI yang selalu melontarkan asumsi negatif mengapa Soeharto tidak diculik, mereka juga menghembuskan isu bahwa Soeharto menjadi bagian dari pelaku G30S/PKI. Menekan Negara agar minta maaf pada PKI sekaligus Mendogma anak negeri agar menerima faham ini dengan mengubah fakta pada buku pelajaran sejarah sekolah, dengan menghapus sejarah kelam G30S/PKI.

Jika memang Soeharto berhaluan Komunis dan juga terlibat G30S/PKI, maka mengapa sepanjang 32 tahun berkuasa, secara luar biasa Pancasila sangat dijunjung tinggi. E0ntah berapa kali kami dulu diharuskan ikut Penataran P4. Pelajaran PMP masuk dalam kurikulum wajib di Ebtanas, mata kuliah Kewiraan di Universitas juga musti lulus. Belum lagi Resimen Mahasiswa dan ABRI masuk Desa digalakkan demi keamanan Negeri dari bahaya Laten komunis. jika ikutan test Tentara,Polisi atau PNS, dipastikan harus lulus test Mental Ideologi dan sedikitpun tidak mentolerir jika peserta terindikasi laten walaupun keluarga jauh yang pernah terlibat, meski hanya simpatisan PKI.

Jika merujuk dari cerita bahwa Soeharto tahu akan ada penculikan, saya fikir Jenderal lain juga sudah tahu, Jenderal Yani pun sudah tahu namun dia dan Pak Nas menolak agar pengamanan di rumah mereka ditambah. Dan juga sangat tidak logis jikalau hanya gara-gara mengetahui lantas langsung dituduh terlibat, mengingat kondisi Soeharto pada hari-hari kelam tersebut disibukkan oleh kejadian putranya yang masuk RS akibat tersiram air panas kuah Sup. Secara militer-pun Soeharto pasti tidak terlalu khawatir sebab dia tahu bahwa PKI tidak memiliki pasukan bersenjata. Dia baru mengetahui bahwa PKI memdoktrin Pasukan Tjakrabirawa menculik rekan-rekannya dari Pernyataan Letkol M Untung di RRI. Awalnya Soeharto berfikir ngga mungkin PKI dan antek-anteknya mampu menculik Para Jenderal.

Intinya,
yang menuduh Soeharto tidak diculik subuh itu adalah simpatisan PKI. Sebagai Bangsa yang besar seyognyanya melindungi nama baik Pahlawan. Sebaiknya Bangsa Indonesia menghargai jasa Soeharto yang menyelamatkan Indonesia dari Komunis. Andai PKI berhasil maka Negara ini dipastikan mirip dengan Korea Utara. Semoga negeri ini cerdas dalam melawan sebuah propaganda fitnah.

#LawanKomunis