Monday, October 28, 2019

Sunday, October 27, 2019

Sertu Sarino, Babinsa Terbaik Dari Kodim 0701 Banyumas


Sokaraja. Danrem 071/Wijaya Kusuma Kolonel Kav Dani Wardana memberikan Piagam Penghargaan Kepada Sertu Sarino, anggota Babinsa Koramil 07 Banyumas Kodim 0701 Banyumas atas dedikasinya kepada warga Desa binaannya dalam pembuatan Pupuk Organik Cair (POC).

Pemberian penghargaan ini dalam rangka HUT ke 74 TNI dan HUT ke 69 Kodam IV Diponegoro. Bertempat di halaman Makorem 071, penyerahan Piagam setelah upacara Hari Sumpah Pemuda.

Editor : Agus WA

Danrem 071/Wijayakusuma : Waspada Jarimu Menari, Jangan Sampai Sebar Hoax


Banyumas – Antisipasi terjadinya pelanggaran prajurit dan PNS serta anggota Persit Kartika Chandra Kirana dilingkungan Korem 071/Wijayakusuma tentang maraknya media sosial yang digunakan tidak pada tempatnya dan menangkal maraknya berita Hoax yang akhir-akhir ini terjadi, Komandan Korem 071/Wijayakusuma Kolonel Kavaleri Dani Wardhana,S.Sos., M.M., M.Han., memberikan Jam Komandan kepada para prajurit dan PNS Kodim 0701/Banyumas, bertempat di Aula Jenderal Soedirman Makodim 0701/Banyumas, Selasa (15/10/2019).
Dalam Jam Komandan tersebut, Danrem mengajak dan memberikan penekanan kepada seluruh prajurit dan PNS serta ibu-ibu persit agar bijak dalam menggunakan media sosial. “Kepada seluruh prajurit, PNS dan ibu-ibu Persit, saya mengajak dan menghimbau agar betul-betul bijak dalam menggunakan media sosial, jangan percaya berita yang belum jelas kebenaran dan asal usulnya. Lebih baik diam dan tidak meng share berita tersebut jika memang tidak jelas asal usulnya,” tegas Danrem.
“Gunakan jari jemari kalian dengan kegiatan positif, menarilah jemarimu dengan lihai dan nyaman untuk kebaikan, bukan untuk perbuatan negatif seperti membuat dan mengirim konten-konten sosial media yang tidak perlu sesuai tugas dan kewajiban sebagai prajurit dan PNS maupun Persitnya. Bersosial media, tidak dilarang, namun kita harus pandai memilah, mana yang baik dan mana yang buruk buat kita, rekan, keluarga maupun handai tolan lainnya”, pintanya.
Dikatakan, pada era globalisasi seperti sekarang ini, semua orang memiliki alat komunikasi yang dinamakan HP, karenanya kita harus bijak dalam penggunaan HP khususnya saat ber media sosial.
“Apa yang kita tulis dan unggah di media sosial semua orang akan tahu, sehingga tulis dan unggah hal-hal yang memang benar-benar aman dan berguna bagi orang lain,” imbuhnya.
Danrem menambahkan, penggunaan media sosial oleh prajurit TNI dan keluarganya sedikit banyak telah membantu meningkatkan pemahaman masyarakat dunia tentang TNI. Pada saat yang sama pemanfaatan medsos oleh prajurit TNI juga dapat meningkatkan kepekaan, kepedulian dan wawasan prajurit terhadap perkembangan dan dinamika situasi di seantero dunia. Namun karena sifatnya yang terbuka dan merupakan ruang publik yang mudah diakses siapa saja, jika tidak dilakukan dengan benar, cermat dan waspada, penggunaan medsos juga dapat membawa hal buruk bahkan membahayakan bagi diri pribadi maupun satuan.
“Tidak ada larangan penggunaan medsos oleh prajurit dan keluarganya. Tetapi pastikan pemanfaatan medsos membawa manfaat positif dan konstruktif bagi kita semua”, jelasnya.
Kolonel Dani menegaskan, prajurit dan PNS serta Persit diseluruh wilayah jajaran Korem 071/Wijayakusuma, harus tetap berpedoman pada nilai-nilai dasar Sapta Marga dan Sumpah Prajurit, bagi prajurit TNI. Dan PNS dengan kode etiknya yakni Panca Prasetya Korprinya dan anggota Persit Kartika Chandra Kirana sesuai aturan yang berlaku dalam Persit Kartika Chandra Kirana. “Kita harus setia kepada NKRI dan menjaga rahasia tentara sekeras-kerasnya. Kita harus bersikap represif dimana kita berada dan bertugas untuk hendaknya bertindak sesuai norma hukum, benar dan profesional. Dan, pastikan bila kalian menggunakan sosial media, gunakan selalu bahasa yang santun sesuai norma kepantasan sebagai bangsa yang beradab dan berbudaya”, jelasnya.
“Berpikirlah sebelum bertindak, waspada dan berhati-hatilah dalam bermedsos, karena bermedsos siapa saja dapat membaca akun pribadi kalian, layakkah isinya. Bersikap sopan, konstruktif dan jujur, tunjukan rasa hormat kepada institusi/satuan kalian. Pahami dengan benar perbedaan antara fakta dan opini. Lindungi privasi keluarga atau rekan kalian. Bila bersifat formal atau resmi, rujuk kepada staf sesuai bidangnya dalam hal ini sraf Penerangan dan atau unsur pimpinan yang berwenang. Patuhi kebijakan dan aturan yang ditetapkan institusi atau satuan kalian”, himbaunya.
Danrem berharap, seluruh prajurit, PNS dan Persit jajaran Kodim 0701/Banyumas dapat memahami dan mengerti tentang pentingnya bermedia sosial sehingga tidak ada pelanggaran khususnya tentang penyebaran berita yang provokatif.

Editor : Agus WA

Tuesday, October 8, 2019

KOPDA HARDIUS KUASAI 7 BAHASA ASING


Seorang anggota TNI berpangkat kopral dua (kopda) bernama Hardius Rusman memiliki kepiawaian menguasai tujuh bahasa asing. Yakni, bahasa Jerman, Prancis, Portugis, Belanda, Spanyol, Inggris, dan Italia.
Dikutip dari rilis yang disampaikan bagian Penerangan TNI, Senin (7/10), yang lebih menarik dari Kopda Hardius Rusman adalah ia tidak pernah belajar secara formal untuk menguasai tujuh bahasa asing tersebut. Ia hanya belajar melalui WhatsApp Group yang beranggotakan dari berbagai negara.
Kopda Hardius Rusman yang bertugas di Kodim 0111/Bireuen Kodam Iskandar Muda (IM) merupakan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Bengkulu Selatan tahun 2004 lalu.

Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto saat menerima Kopda Hardius Rusman di Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, mengatakan bahwa kemampuan yang dimiliki Kopda Hardius Rusman merupakan karunia dari Tuhan.
“Dengan kemampuan menguasai tujuh bahasa asing, diharapkan Kopda Hardius Rusman bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat pada umumnya dan institusi TNI pada khususnya,” ucapnya.

Hadi menyambut positif adanya prajurit TNI berpangkat terendah yang memiliki kemampuan tujuh bahasa asing.
“Prajurit ini bisa menjadi contoh dan memberikan motivasi kepada prajurit-prajurit lainnya,” harapnya.

Editor : Agus WA

Tuesday, October 1, 2019

Sejarah Yang Tidak Diceritakan

“ Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati,” inilah yel-yel yang diteriakkan Partai Komunis Indonesia (PKI) Madiun pada tahun 1948.

Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. Otomatis, Magetan, Ponorogo, Pacitan menjadi sasaran berikutnya. Kyai di Pondok Takeran Magetan sudah dihabisi oleh PKI. Sekitar 168 orang tewas dikubur hidup-hidup. Kemudian PKI geser ke Ponorogo. Dengan sasaran Pondok Modern Darussalam Gontor.
KH. Imam Zarkasyi (Pak Zar) dan KH Ahmad Sahal (Pak Sahal) dibantu kakak tertua beliau berdua, KH Rahmat Soekarto (yang saat itu menjabat sebagai Lurah desa Gontor), pun berembug bagaimana menyelamatkan para santri dan Pondok.

“Wis Pak Sahal, penjenengan ae sing Budhal ngungsi karo santri. PKI kuwi sing dingerteni Kyai Gontor yo panjengan. Aku tak jogo Pondok wae, ora-ora lek dkenali PKI aku iki. (Sudah Pak Sahal, Anda saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya Anda. Biar saya yang menjaga Pesantren, tidak akan dikenali saya ini,” kata Pak Zar.

Pak Sahal pun menjawab: “Ora, dudu aku sing kudu ngungsi. Tapi kowe Zar, kowe isih enom, ilmu-mu luwih akeh, bakale pondok iki mbutuhne kowe timbangane aku. Aku wis tuwo, wis tak ladenani PKI kuwi. Ayo Zar, njajal awak mendahno lek mati“.

(Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, tapi kamu Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu. Ayo Zar, mencoba badan, walau sampai mati”.

Akhirnya, diputuskanlah bahwa beliau berdua pergi mengungsi dengan para santri. Penjagaan pesantren di berikan kepada KH Rahmat Soekarto.

Berangkatlah rombongan pondok Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Pak Sahal pun berujar, “Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sakyawane pisan” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”.

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pondok Gontor.

Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Senjata ditembakkan. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang di dalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok Gontor sudah dijadikan markas tentara.

Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu ke dalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang.

Dengan mengendarai kuda pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka.

Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Suruh menghadapi PKI sini…).

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri yang terbuat dari gedeg bambu dirusak. Buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sarana peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an mereka injak dan bakar.
Akhirnya, PKI pun kembali kerumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk ke rumah untuk membunuh KH. Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini).

Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, (putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari). Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena serbuan itu. Membiarkan Pondok Modern Darussalam Gontor dalam keadaan porak poranda.

Semoga sejarah ini menjadi pengingat dan pelajaran berharga untuk perjuangan mempertahankan Islam, Pesantren, Bangsa dan Negara.

Ditulis oleh:
Ahmad Ghozali Fadli
Pelayan Pesantren Alam Bumi Al-Qur’an, Wonosalam, Jombang.

Tragedi Serangan PKI ke Pondok Pesantren Gontor


“Pondok Bobrok, langgar Bubar, santri mati,” inilah yel-yel penuh kebencian yang diteriakkan PKI Madiun pada tahun 1948.

Sejak 18 September 1948, Muso memproklamirkan negara Soviet Indonesia di Madiun. Slogan itu terus berkumandang dari seluruh anggota sipil PKI Muso dan tentara Muso yang bernama Front Demokratik Rakyat (FDR).

Melalui slogan itu, PKI merusak bangunan pondok pesantren, langgar dibubarkan dan santri dibantai diluar batas kemanusiaan. Lebih ngeri lagi, sebelum slogan itu dikumandangkan di berbadai desa, kota, jalan dan gang-gang. Para anggota PKI sudah menyiapkan lubang-lubang untuk membantai para kyai dan santri. Di berbagai lubang itulah, para kyai dan santri disembelih secara masal. (Anab Afifi dan Thowaf Zuharon, 2016,Ayat-ayat yang disembelih, Jakarta : Jagat Publising. Hal. 109)

September 1948, Muso telah menguasai daerah karesidenan Madiun,meliputi Madiun, Ponorogo, Magetan, Pacitan dan Ngawi.Pondok Modern Darussalam yang berada di Gontor Ponorogo juga tidak lepas dari ancaman PKI.

Hijrah atau Melawan PKI

Kyai Sahal dan Kyai Imam Zarkasyi berembug sangat serius dengan santri senior. Setelah lama berembug, akhirnya ditetapkan bahwa melawan PKI yang lengkap dengan senjata sangatlah tidak mungkin. Akibatnya akan banyak santri yang menjadi korban. Satu-satunya jalan yang bisa ditempuh adalah menyelamatkan diri dengan cara mengungsi.

Ada sebuah kisah menarik siapa yang akan tinggal menunggu pondok. Kedua kyai ini benar-benar mengajarkan “Itsar”, bagaimana mereka tidak rela saudaranya menderita. Kyai Imam Zarkasyi berkata “Sudah, pak Sahal, kamu saja yang berangkat mengungsi dengan para santri. Yang diketahui Kyai Gontor itu ya kamu. Biar saya yang menjaga pesantren, tidak akan dikenali saya ini.”.

Namun, mendengar kalimat itu Kyai Sahal malah gantian menyanggah, “Tidak, bukan saya yang harus mengungsi, rapi kamu saja Zar. Kamu lebih muda, ilmumu lebih banyak, pesantren ini lebih membutuhkan kamu daripada saya. Saya sudah tua, biar saya hadapi PKI-PKI itu.”.

Kedua Kyai itu berusaha meminta salah satu dari mereka untuk pergi mengungsi. Sungguh bukan nasib mereka yang dipikirkan, tetapi nasib saudaranya dan para santrinya. Akhirnya diputuskanlah para kyai berdua pergi mengungsi dengan para santri.

Penjagaan pesantren diberikan kepada KH. Rahmat Soekarto. Lurah Gontor sekaligus Imam Jumatan di Gontor. Belum sampai melakukan pengungsian, ternyata Pesantren Gontor sudah disambangi utusan PKI yang membawa sepucuk surat. Isi surat itu adalah perintah dari pasukan PKI Muso agar seluruh warga Pesantren Gontor tidak meninggalkan tempat. Jika meninggalkan tempat, akan terjadi bencana besar yang dibuat oleh para tentara PKI Muso.

Menerima surat itu, Kyai Sahal dan Kyai Zarkasyi hampir saja mengurungkan niatnya untuk mengungsi. Namun, karena ajakan yang cukup kuat dari para santri untuk mengungsi, akhirnya kedua kyai tersebut berangkat mengunsi bersama para santri.

Berangkatlah rombongan Hijrah Kyai Gontor kearah timur menuju Gua Kusumo, saat ini dikenal dengan Gua Sahal di Trenggalek. Mereka menempuh jalur utara melewati gunung Bayangkaki. Dengan untaian air mata karena meninggalkan pondok tercinta.

Saat itulah tercetuslah ucapan dari kyai sahal,“Labuh bondo, labuh bahu, labuh pikir, lek perlu sakyawane pisa” (Korban harta, korban tenaga, korban pikiran, jika perlu nyawa sekalian akan aku berikan”.

Pesantren Gontor Diacak-acak PKI

Sehari setelah santri-santri mengungsi, akhirnya para PKI betul-betul datang. Mereka langsung bertindak ganas dengan menggeledah seluruh pesantren gontor.

Tepat pukul 15.00 WIB, PKI mulai menyerang pondok. Sejumlah letusan senjata, mewarnai ketegangan situasi itu dibeberapa tempat. Mereka sengaja memancing dan menunggu reaksi orang-orang didalam pondok. Setelah tak ada reaksi, mereka berkesimpulan bahwa pondok gontor sudah dijadikan markas tentara.

Pukul 17.00 WIB, mereka akhirnya menyerbu kedalam pondok dari arah timur, kemudian disusul rombongan dari arah utara. Tak lama kemudian datang lagi rombongan penyerang dari arah barat. Jumlah waktu itu ditaksir sekitar 400 orang.

Dengan mengendarai kuda putih pimpinan tentara PKI berhenti didepan rumah pendopo lurah KH. Rahmat Soekarto. Mengetahui kedatangan tamu, lurah Rahmat menyambut tamunya dengan ramah, serta menanyakan maksud dan tujuan mereka.

Tanpa turun dari kuda, pimpinan PKI ini langsung mencecar lurah Rahmat. “Pertama, kami datang untuk menemui pimpinan pondok. Kedua, kami mohon diizinkan untuk meriksa seluruh isi pondok” sergahnya kasar.

Kemudian mereka meninggalkan rumah lurah Rahmat, nekat masuk tempat tinggal santri, lalu berteriak-teriak mencari kyai Gontor. “Endi kyai-ne, endi kyai-ne? Kon ngadepi PKI kene …” (Mana Kyainya, mana kyainya? Surah menghadapi PKI sini…).

Karena tak ada sahutan, mereka pun mulai merusak pesantren. Gubuk-gubuk asrama santri terbuat dari bambu dirusak. Kasur-kasur dibakar, buku-buku santri dibakar habis. Peci, baju-baju santri yang tidak terbawa, mereka bawa ke pelataran asrama. Mereka menginjak-injak dan membakar sara peribadatan, berbagai kitab dan buku-buku. Termasuk beberapa kitab suci Al-Qur’an mereka injak dan bakar.

Suasana begitu mencekam. PKI pun kembali kerumah lurah Rahmat, lalu berusaha masuk kerumah untuk membunuh KH. Rahmat Soekarto. Mereka sambil teriak “Endi lurahe? Gelem melu PKI po ra? Lek ra gelem, dibeleh sisan neng kene…!” (Mana lurahnya? Mau ikut PKI apa tidak? Kalau tidak mau masuk anggota PKI, kita sembelih sekalian di sini).

Namun, tak berapa lama sebelum mereka bisa masuk kerumah lurah Rahmat. Datanglah laskar Hizbullah dan pasukan Siliwangi. Pasukan itu dipimpin KH. Yusuf Hasyim, putra bungsu KH. Hasyim Asy’ari. Pasukan PKI itu akhirnya lari tunggang langgang, karena sebuan itu. Mereka meninggalkan apa yang mereka bawa dan akhirnya membiarkan Gontor dalam keadaan porak poranda.

Kejahatan, kezaliman PKI itu bukan hanya isu semata. Tetapi fakta sejarah dinegeri ini. Bagaimana dengan kata-kata dan perbuatan mereka membuat berbagai kerusakan. Bahkan mereka banyak melakukan kezaliman terhadap kaum muslimin dinegeri ini.

Generasi muda merupakan pelanjut estafet perjuangan ini. Sudah selayaknya untuk memahami sepak terjang kejahatan PKI. Orang bijak adalah orang yang bisa mengambil pelajaran dari kejadian dimasa lalu. Agar Jangan sampai terjerumus kedalam lubang yang sama.

Penulis: Ustad Anwar Ihsanuddin

Diambil dari majalah Islam An-Najah edisi 130 September 2016 rubrik Jelajah.

Editor : Agus WA